Selasa, 08 Maret 2011

MAKALAH GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI ASKEP ANEMIA DEFISIENSI BESI


MAKALAH
GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI
ASKEP ANEMIA DEFISIENSI BESI







SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM JAMBI
STIKBA
PRODI S1 KEPERAWATAN
2009-2010







K ATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Hemetologi & Imunologi yang berjudul ” Askep Anemia Defisiensi Besi ” tepat pada waktunya.
   Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengrjaan makalah ini.
   Penulis juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun agar penulis dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.




                                                                                    Jambi,14 Desember 2009



                                                                                                Penulis









DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ..................................................................................
LAMPIRAN ................................................................................................      i
KATA PENGANTAR ...............................................................................     ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................    iii
BAB I PENDAHULUAN                                                                           
1.1    Latar Belakang ...............................................................................     1
1.2    Rumusan Masalah ..........................................................................     2
1.3    Tujuan ............................................................................................     2
BAB II KONSEP DASAR TEORI
2.1        Pengertian Anemia Defisiensi Besi ................................................     3
2.2        Etiologi...........................................................................................     4
2.3        Patofisiologi....................................................................................     4
2.4        Manifestasi klinis............................................................................     7
2.5        Penatalaksanaan..............................................................................     7
2.6        Komplikasi .....................................................................................     9
2.7        Asuhan Keperawatan......................................................................     9
BAB III PEMBAHASAN KASUS ...........................................................   21
BAB IV PENUTUP
4.1        Kesimpulan  ...................................................................................   27
4.2        Saran ..............................................................................................    27
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Anemia adalah suatu istilah yang menunjukkan rendahnya sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
(Brunner & Suddarth, 2001)
Zat besi merupakan salah satu mikronutrien terpenting kehidupan anak. Kekurangan atau defisiensi besi yang berat akan menyebabkan anemia atau kurang darah. Di dunia, defisiensi besi terjadi pada 20-25% bayi. Di Indonesia, ditemukan anemia pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, 57,1% remaja putri, dan 50,9% ibu hamil. Penelitian pada 1000 anak sekolah yang dilakukan oleh IDAI di 11 propinsi menunjukkan anemia sebanyak 20-25%. Jumlah anak yang mengalami defisiensi besi tanpa anemia tentunya jauh lebih banyak lagi.
Berbagai macam pembagian anemia dalam kehamilan telah dikemukakan oleh para penulis. Berdasarkan penyelidikan data dari Dep.Kes anemia dalam kehamilan dapat dibagi menjadi:
1.      Anemia defisiensi besi
2.      Anemia megaloblastik
3.      Anemia hipopalstik
4.      Anemia hemolitik
Anemia yang langsung berhubungan dengan kehamilan adalah anemia defisiensi besi, yang merupakan 95% dari anemia pada wanita hamil.
Dalam makalh ini penulis membahas konsep teori anemia defisiensi besi serta asuhan keperawatannya.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
         1.   Apa Pengertian dari Defisiensi Besi ?
         2.   Apa Etiologi dari Defisiensi Besi ?
         3.   Bagaimanakah patofisiologis pada Defisiensi Besi ?
         4.   Apa saja manifestasi dari Defisiensi Besi ?
         5.   Bagaimankah penatalaksanaan nya ?
         6.   Apa saja komplikasi nya ?
         7.   Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Defisiensi Besi ?
1.3    Tujuan
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Sistem Hematologi & Imunologi yang berjudul ” Askep Anemia Defisiensi Besi ”. Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah menjawab pertanyaan yang telah dijabarkan pada rumusan masalah agar penulis ataupun pembaca tentang konsep skoliosis serta proses keperawatan dan pengkajiannya.



BAB II
KONSEP DASAR TEORI
2.1        Pengertian
Anemia akibat defesiensi besi untuk sisntesis Hb merupakan penyakit darah yang paling sering pada bayi dan anak. Frekuensinya berkaitan dengan aspek dasar metabolisme besi dan nutrisi tertentu. Tubuh bayi baru lahir mengandung kira-kira 0,5 g besi, sedangkan dewasa kira-kira 5 g. untuk mengejar perbedaan itu rata-rata 0,8 mg besi harus direabsorbsi tiap hari selama 15 tahun pertam kehidupan. Disamping kebutuhan pertumbuhan ini, sejumlah kecil diperlukan untuk menyeimbangkan kehilangan besi normal oleh pengelupasan sel, karena itu untuk mempertahankan keseimbangan besi positif pada anak, kira-kira 1 mg besi harus direabsorbsi setiap hari.
Prevalens anemia defisiensi besi (ADB) pada anak masih tinggi.Pada anak sekolah dasar berumur 7-13 tahun di Jakarta (1999) dari seluruh jenis anemia yang diderita,50% di antaranaya menderita ADB.
ADB memberikan dampak negatif kepada tumbuh-kembang anak.Hal ini disebabkan karena defisiensi besi selain dapat mengakibatkan komplikasi yang ringan antara lain kelainan kuku (kolonikia),atrofi papil lidah,glositis dan stomatitis yang dapat sembuh dengan pemberian besi,dapat pula memberikan komplikasi yang berat misalnya penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi,gangguan prestasi belajar,atau gangguan mental yang lainnya yang dapat berlangsung lama bahkan menetap.Oleh karena itu pengobatan terhadap defisiensi besi harus dimulai sedini mungkin.Demikian juga tindakan pencegahannya
Anemia Defisiensi besi adalah kadar besi dalam tubuh dibawah nilai normal. Pada tahap awal kita akan menemukan cadangan besi tubuh yang berkurang. Kemudian jika kekurangan berlanjut kadar besi dalam plasma akan berkurang. Pada akhirnya proses pembentukan hemoglobin akan terganggu dan menyebabkan anemia defisiensi besi.
Anemia yang disebabkan kekurangan besi untuk sintesa Hemoglobin.
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pamatangan eritrosit.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral Fe sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit
2.2        Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan zat besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun :
1.      Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang dapat beasal dari :
-        Saluran cerna à Akibat dari tukak peptik kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
-        Saluran genetalia wanita à menoragi atau metroragi
-        Saluran kemih à hematuria
-        Saluran nafas à hemoptoe
2.      Faktor nutrisi à akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang tidak baik (makanan banyak mengandung serat, rendah vitamin C, dan rendah daging)
3.      Kebutuhan besi meningkat à seperti pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan
4.      Gangguan absorpsi besi à gastrekotomi, kolitis kronis

2.3        Patofisiologi
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi semakin menurun. Apabila cadangan kosong, maka keadaan ini disebut iron depleted state. Apabila kekurangan besi berlanjut terus, maka penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang. Sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit, tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut iron deficien erythropoesis. Selanjutnya timbul anemia hipokromik mikrositer, sehingga disebut iron deficiency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku epitel mulut dan faring, serta berbagai gejala lainnya
Zat besi (Fe) diperlukan untuk pembuatan heme dan hemoglobin (Hb). Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb. Walaupun pembuatan eritrosit juga menurun, tiap eritrosit mengandung Hb lebih sedikit dari pada biasa sehingga timbul anemia hipokromik mikrositik.
1.      Jumlah efektif eritrosit berkurang menyebabkan jumlah O2 ke jaringan berkurang
2.      Kehilangan darah yang mendadak (> 30%) mengakibatkan pendarahan menimbulkan simtomatologi sekunder hipovolemi dan hipoksia
3.      Tanda dan gejala: gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardi, dyspne, syok
4.      Kehilangan darah dalam beberapa waktu (bulan) sampai dengan 50% terdapat kompensasi adalah:
ü  Peningkatan curah jantung dan pernafasan
ü  Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin
ü  Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan, redistribusi aliran darah ke organ vital.
Salah satu tanda yang sering di kaitkan dengan anemia adalah pucat, ini umumnya sering di kaitkan dengan volume darah, berkurangnya hemoglobin dan vasokontriksi untuk memperbesar pengiriman O2 ke organ-organ vital. Karena faktor-faktor seperti pigmentasi kulit, suhu dan kedalaman serta distribusi kapiler mempengaruhi warna kulit maka warna kulit bukan merupakan indeks pucat yang dapat diandalkan. Warna kuku, telapak tangan dan membran mukosa mulut serta konjungtiva dapat digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.



2.4        Manifestasi Klinis
1.      Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb, vasokontriksi
2.      Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah) Angina (sakit dada)
3.      Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2 berkurang)
4.      Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada SS
5.      Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau diare)
Pucat merupakan tanda paling penting pada defisiensi besi. Pada ADB dengan kadar Hb 6-10 g/dl terjadi mekanisme kompensasi yang efektif sehingga gejala anemia hanya ringan saja. Bila kadar Hb turun <> 100 µg/dl eritrosit
Gejala khas yang dijumpai pada defisiensi besi dan tidak dijumpai pada anemia jenis lain adalah sebagai berikut :
a.       Koilorikia à Kuku sendok (Spoon nail) kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical, dan menjadi cekung seperti sendok.
b.      Atrofi papilla lidah à Permukaan lidah menjadi licin dan mengilap karena papil lidah menghilang.
c.       Stomatitis angularis à adanya peradangan pada sudut mulut, sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
d.      Disfagia à nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
e.       Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan aklorida.
2.5        Penatalaksanaan
1.   Medikamentosa
      Pemberian preparat besi (ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal. Asam askorbat 100 mg/15 mg besi elemental (untuk meningkatkan absorbsi besi).
Ø  Pemberian preparat besi peroral
Preparat yang tersedia berupa ferrous glukonat, fumarat dan suksinat. Yang sering dipakai adalah ferrous sulfat karena harganya lebih murah. Untuk bayi tersedia preparat besi berupa tetes (drop). Untuk mendapatkan respon pengobatan dosis besi yang dipakai adalah 4-6 mg besi elemental/kgBB/hari. Obat diberikan dalam 2-3 dosis sehari. Preparat besi ini harus diberikan selama 2 bulan setelah anemia pada penderita teratasi.1,2
Ø  Pemberian preparat besi parenteral
Pemberian besi secara intramuskuler menimbulkan rasa sakit dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional dan reaksi alergi. Kemampuan untuk menaikkan kadar Hb tidak lebih baik dibanding peroral. Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan ini mengandung 50 mg besi. Dosis dihitung berdasarkan :
Dosis besi (mg) = BB (kg) x kadar Hb yang diinginkan (g/dl) x 2,5.
Ø  Transfusi darah
Transfusi darah jarang diperlukan. Transfusi darah hanya diberikan pada keadaan anemia yang sangat berat atau yang disertai infeksi yang dapat mempengaruhi respon terapi. Pemberian PRC dilakukan secara perlahan dalam jumlah yang cukup untuk menaikkan kadar Hb sampai tingkat aman sambil menunggu respon terapi besi. Secara umum, untuk penderita anemia berat dengan kadar Hb < style="font-weight: bold;">II.
2.   Bedah
      Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum Meckel.
3.   Suportif
      Makanan gizi seimbang terutama yang mengandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa,hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan)

Prinsip penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta memberikan terapi penggantian dengan preparat besi. Sekitar 80-85% penyebab ADB dapat diketahui sehingga penaganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama efektifnya dengan pemberian secara parenteral. Pemberian secara parenteral dilakukan pada penderita yang tidak dapat memakan obat oleh karena terdapat gangguan pencernaan.
4.      Pencegahan
Tindakan penting yang dapat dilakukan untuk mencegah kekurangan besi pada masa awal kehidupan adalah meningkatkan penggunaan ASI eksklusif, menunda penggunaan susu sapi sampai usia 1 tahun, memberikan makanan bayi yang mengandung besi serta makanan yang kaya dengan asam askorbat (jus buah) pada saat memperkenalkan makanan pada usia 4-6 bulan, memberikan suplementasi Fe kepada bayi yang kurang bulan, serta pemakaian PASI (susu formula) yang mengandung besi.
2.6        Komplikasi
1.Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
2.Daya konsentrasi menurun
3.Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun.
2.7        Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Anemia Defisiensi Besi
A.    Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
1)      Anamnesa
a.       Identitas Pasien.
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b.   Keluhan Utama : Biasanya pasien mengeluh lemas, lesu, dan pusing.
c.   Riwayat Kesehatan.
Ø  Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
Ø  Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien dulu pernah mengalami perdarahan hebat. Dan apakah pasien dulu pernah kekurangan makanan yang mengandung asam folfat, Fe.
Ø  Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia, sering terjadi pada beberapa keturunan, dan anemia defisiensi besi yang cenderung diturunkan secara genetik.
2.      Dasar data pengkajian pasien
a.   Aktivitas/Istirahat
               Gejala :
Ø  Keletihan, kelemahan, malaise umum.
Ø  Kehilangan produktivitas, penurunan semangat untuk bekerja
Ø  Toleransi terhadap latihan rendah
Ø  Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
               Tanda :
Ø  Takikardia/taipnea, dispnea pada bekerja atau istirahat
Ø  Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
Ø  Kelemahan otot dan penurunan kekuatan
Ø  Ataksia, tubuh tidak tegak
Ø  Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan
b.      Sirkulasi
               Gejala :
Ø  Riwayat kehilangan darah kronis, mis, perdarahan GI kronis, menstruasi berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)
Ø  Riwayat endokarditis infektif kronis
Ø  Palpitasi (takikardia kompensasi)
               Tanda :
Ø  TD : Peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar, hipotensi postural
Ø  Disritmia  Abnormalitas EKG, misl. depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T : takikardia
Ø  Bunyi jantung : Murmur sistolik (DB)
Ø  Ekstremitas (warna) : Pucat pada kulit dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku (Catatan : pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan); kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (PA)
Ø  Sklera : Biru atau putih seperti mutiara (DB)
Ø  Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi kompensasi)
Ø  Kuku : Mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB)
Ø  Rambut : Kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara prematur (AP)
c.       Integritas Ego
               Gejala :
Ø  Keyakinan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misal : penolakan transfuri darah
                     Tanda :
Ø  Depresi

d.   Eliminasi
               Gejala :
Ø  Riwayat pielonefritis, gagal ginjal
Ø  Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB)
Ø  Hematemesis, feses dengan darah segar, melena
Ø  Diare atau konstipasi
Ø  Penurunan haluaran urine

Tanda :
Ø  Destensi abdomen
e.   Makanan/Cairan
               Gejala :        
Ø  Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB)
Ø  Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring)
Ø  Mual/muntah dispepsia, anoreksia
Ø  Tidak pernah puas mengunyah atau jika untuk es, kotoran, tepung jagung, cat tanah liat dan sebagainya (DB)
               Tanda :
Ø  Lidah tampak merah daging/halus 9AP : defisiensi asam folat dan vitamin B12.
Ø  Membran mukosa kering pucat
Ø  Turgor kulit : Buruk, kering, tampak kusut/hilang elastisitas (DB)
Ø  Stomatis dan glositis (status defisiensi)
Ø  Bibir : Selitis, mis. Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah (DB)
f.       Higiena
               Tanda :
Ø  Kurang bertenaga, penampilan tak rapih
g.      Neurosensori
               Gejala :        
Ø  Sakit kepala berdenyut, pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi
Ø  Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
Ø  Kelemahan keseimbangan buruk, kaki goyah, parestesia tangan/kaki (AP): KLAUD
Ø  Sensasi menjadi dingin
               Tanda :
Ø  Peka rangsang, gelisah, depresi, cenderung tidur, apatis
Ø  Mental tak mampu berespon lambat dan dangkal
Ø  Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP)
Ø  Epistaksis perdarahan dari lubang-lubang (taplastik)
Ø  Gangguan koordinasi, ataksia : penurunan rasa getar dan posisi, tanda Romberg positif, paralisis (AP)
h.      Nyeri/Kenyamanan
               Gejala :
Ø  Nyeri abdomen samar; sakit kepala (DB)
i.        Pernapasan
               Gejala :        
Ø  Riwayat TB, abses paru
Ø  Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
               Tanda :
Ø  Takipnea, ortopnea dan dispnea
j.        Keamanan
               Gejala :
Ø  Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, mis. Benzen, insektisida, fenilbutazon, naftalen
Ø  Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan
Ø  Riwayat kanker, terapi kanker
Ø  Tidak toleran terhadap dingin dan/atau panas
Ø  Transfusi darah sebelumnya
Ø  Gangguan penglihatan
Ø  Penyembuhan luka buruk, sering infeksi
               Tanda :
Ø  Demam rendah, mengiggil, berkeringat malam
Ø  Limfadenopati umum
Ø  Petekie dan ekimosis (aplastik)
k.      Seksualitas
               Gejala :
Ø  Perubahan aliran menstruasi, mis. Menoragin atau amenore (DB)
Ø  Hilang libido (pria dan wanita)
Ø  Impoten
               Tanda :        
Ø  Serviks dan dinding vagina pucat
3.      Pemeriksaan SADT
Sediaan apus darah tepi memperlihatkan sel-sel eritrosit bersifat hipokrom, mikrositik, kadang ditemukan target cell dan poikilosit berbentuk pensil/ pencil cell. Jumlah retikulosit rendah sebanding dengan derajat anemia.
4.      Pemeriksaan Fisik
Ø  Anemis, tidak disertai ikterus.
Ø  Organomegali dan limphadenopati
Ø  Stomatitis angularis, atrofi papil lidah
Ø  Ditemukan takikardi, murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran
Ø  jantung
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penurunan O2 ke jaringan
2.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
3.      Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, tidak mau makan
4.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidak seimbangan suplai oksigen deng kebutuhan miokard
5.      Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh
6.      Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor pembekuan darah


C.          NCP
NO
Diagnosa Keperawatan
tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan O2 ke jaringan
Klien akan menunjukan kebutuhan Oksigen terpenuhi
KH:
-   Menunjukkan postur badan rileks.
-   Bebas bergerak.
-   Mampu istirahat dengan tepat.

-        Kaji keluhan nyeri, lokasi dan lamanya (skala 0-10).
-         
-        Observasipetunjuk nyeri non verbal. Misal: denggan bergerak, ekspresi wajah.
-         
-        Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman misal gunakan posisi miring, tinggikan kepala sedikit pada tempat tidur tanpa menggunakan bantal.
-         
-        Lakukan pijatan lokal hati-hati pada area luka.
-        Lakukan kompres hangat, basah untuk sendi yang sakit/nyeri

-    Nyeri pada anemia membuat hipoksia dan dapat menimbulkan infark.
-    Petunjuk non verbal yang dapat membantu mengevaluasi nyeri dan keefektifan terapi.
-    Meningkatkan kenyamanan dan resiko terjadinya cedera menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.


-    Membantu menurunkan tegangan otot.
-    Hangat menyebabkan vasodilatasi, meningkatkan sirkulasi. Dingin menyebabkan vasokontriksi.
2.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien melaporkan peningkatan intoleransi aktifitas.

KH :
-    Menunjukkan pernafasan normal.
-    Mendapatkan istirahat yang cukup.
-    TD dalam keadaan normal
-  Observasi adanya tanda kerja fisik (dispnea, sesak nafas, kunang-kunang, keletihan.
-  Antisipasi dan bantu dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.
-  Beri pengalihan aktifitas bermain.


-  Pilih teman sekamar yang sesuai dengan usia dan minat yang sama.
-  Pertahankan posisi fowler tinggi
-  Ukur tanda vital selama istirahat
-    Merencanakan intervensi yang tepat.

-    Untuk mencegah kelelahan.

-    Meningkatkan istirahat dengan tenang serta mencegah kebosanan dan menarik diri.
-    Untuk mendorong kepatuhan pada kebutuhan istirahat.
-     
-    Untuk pertukaran udara ug optimal.
-    Untuk menentukan nilai dasar perbandingan selama periode aktifitas.

3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, tidak mau makan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan anak mendapatkan kebutuhan nutrisi yang tepat.
KH :
-    Berat badan anak kembali normal.
-    Anak mendapatkan suplemen yang dibutuhkan missal (Fe)
-    Tidak mengalami tanda malnutrisi.
-    Berikan susu pada bayi sebagai makanan suplemen setelah makanan padat diberikan.
-    Sajikan makanan sedikit tapi sering dari pada 3 kali dalam porsi besar.
-    Instruksikan keluarga untuk memberikan asupan makanan yang cukup dan suplemen (Fe).
-    Dorong klien untuk makan semua makanan atau makanan tambahan.

-    Berikan pilihan makanan yang mereka sukai.
-    Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori.
-    Terlalu banyak minum susu, akan menurunkan masukan makanan padat.
-    Mengurangi resiko penurunan terjadi muntah.
-     
-    Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan suplemen yang dibutuhkan oleh tubuh.
-     
-    Klien mungkin hanya makan sedikit karena kehilangan minat pada makanan serta mengalami mual.
-    Makanan yang mereka makan pasti dihabiskan.
-    Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan atau defisiensi.

4.
Pola nafas tidak efektif b.d Ketidak seimbangan suplai oksigen deng kebutuhan miokard
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24jam tidak terjadi perubahan pola nafas dg k.h:
TD: 120/80mmHg
Suhu : 37 C
HR : 60 x/i
RR: 20x/i
-      Auskultasi bunyi nafas.




-      Kaji adanya edema.



-      Posisikan pasien pada keadaan semi fowler

-      Berikan oksigen sesuai indikasi

-      Kolaborasi pemberian diuretik.
-      Indikasi dema paru, sekunder akibat dekompensasi jantung.
-      Curiga gagal kongestif/kelebihan volume cairan
-      Agar memaksimalkan ekpansi paru
-      Memenuhi kebutuhan oksigen
-      Diuretik bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan dijariangan, sehingga menurunkan resiko terjadi edema paru
5.
Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam mampu untuk mengidentifikasi perilaku untuk mencegah menurunkan infeksi.
KH :
-    Klien dan keluarga.
-    Kliwn tidak menunjukkan bukti infeksi.
-    Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan klien.
-    Pertahankan teknik aseptik ketat pada prosedur perawatan.
-    Berikan perawatan kulit.
-    Lindungi klien dari kontak dengan individu yang terinfeksi.
-    Pantau suhu.
-    Mencegah terjadinya kontaminasi bakterial.
-    Menurunkan resiko infeksi bakteri.
-    Menurunkan resiko kerusakan kulit atau jaringan.
-    Untuk meminimalkan pemejanan pada organisme infektif
-    Adanya bukti infeksi dan membutuhkan pengobatan.
6.
Resiko perdarahan b/d penurunan faktor pembekuan darah


Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 24 jam diharapkan anak dapat mnurunkan resiko perdarahan.
KH :
-   Mempertahankan homeastasis dengan tanpa perdarahan.
-   Menunjukkan perilaku penurunan resiko perdarahan.

-    Awasi nadi, TD, dan CVP bila ada.



-    Catat perubahan mental atau tngkat kesadaran


-    Dorong menggunakan sikat gigi halus



-    Gunakan jarum kecil untuk injeksi, tekan lebih lama pada bagian bekas suntikan.
-     
-    Hindarkan penggunaan produk yang mengandung aspirin
kolaborasi
-    Awasi Hb/Ht dan faktor pembekuan

-    Berikan obat sesuai indikasi. Vitamin tambahan (contoh: vit K, D, C)
-      Peningkatan nadi dengan penurunan TD dan CVP dapat menunjukkan kehilangan volume darah sirkulasi, memerlukan evaluasi lanjut.
-      Perubahan dapat menunjukkan perbahan perfusi jaringan serebral sekunder terhadap hipoolemia, hipoksemia.
-      Pada adanya gangguan faktor pembekuan, trauma minimal dapat menyebabkan perdarahan mukosa.
-      Meminimalkan kerusakan jaringan, menurunkan resiko perdarahan/hematoma
-      Koagulasi memanjang, berpotensi untuk resiko perdarahan.

-      Indikator anemia, perdarahan aktif/ terjadinya komplikasi (contoh: KID)
-      Menungkatkan sintesis protombin dan koagulasi
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

KASUS :
Ny.K 35 tahun datang ke RS Raden, dengan keluhan klien mengatakan dadanya nyeri, sakit kepala dan sesak nafas, lemas, cepat lelah saat beraktivitas. Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan berat badannya sebelum sakit 50 Kg, klien mengatakan mual, lemas/lemah, sesak napas, dan klien tampak pucat, mukosa bibir dan tangan tampak pucat, konjungtiva tampak pucat, pada sudut tampak bercak berwarna pucat keputihan, kuku pasien tampak melengkung seperti sendok.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, diperoleh data TD : 110/70 mmHg, Suhu : 350 C, HR : 89x/i, RR : 25x/i, (Hb didapat ; Hb 9 g/dl, kadar zat besi 3mg),TB 158 cm, BB : 45 Kg.

A.    PENGKAJIAN
      DS :
Ø  Klien mengatakan dadanya nyeri, sesak nafas
Ø  Klien mengatakan sesak napas dan lemas, cepat lelah pada saat beraktivitas
Ø  Klien mengatakan nafsu makan berkurang
Ø  Klien mengatakan berat badan sebelum sakit 50 Kg
      DO :
Ø  Klien tampak pucat, kuku pasien tampak melengkung
Ø  TD : 110/70
Ø  Suhu : 350 C
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Ø  BB : 45 Kg



B.     ANALISA DATA
NO
SIGN & SYMTOMP
ETIOLOGI
PROBLEM
1
DS :
Klien Mengatakan nyeri
Do :
Ø  Klien Tampak meringis
Ø  TD : 110/70mmHg
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Penurunan O2 ke jaringan.
Gangguan rasa nyaman nyeri
2
DS :
Ø  Klien mengatakan nafsu makan berkurang, mual
Ø  Klien mengatakan sebelum sakit BB nya 50 Kg
DO :
Ø  Klien tampak pucat
Ø  klien tampak lemas
Ø  BB 50 Kg
Nafsu makan menurun, mual
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
3
DS :
Klien Mengatakan sesak nafas dan lemas, cepat lelah pada Saat beraktifitas.
DO :
Ø  Klien Tampak Pucat
Ø  Klien tampak lemah
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.

Intoleransi aktifitas

C.    NCP
NO
Diagnnosa Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan O2 ke jaringan
Klien akan menunjukan kebutuhan Oksigen terpenuhi
KH:
-   Menunjukkan postur badan rileks.
-   Bebas bergerak.
-   Mampu istirahat dengan tepat.

Ø  Kaji keluhan nyeri, lokasi dan lamanya (skala 0-10).
Ø  Observasipetunjuk nyeri non verbal. Misal: denggan bergerak, ekspresi wajah.
Ø  Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman misal gunakan posisi miring, tinggikan kepala sedikit pada tempat tidur tanpa menggunakan bantal.
Ø  Lakukan pijatan lokal hati-hati pada area luka.
Ø  Lakukan kompres hangat, basah untuk sendi yang sakit/nyeri

Ø  Nyeri pada anemia membuat hipoksia dan dapat menimbulkan infark.
Ø  Petunjuk non verbal yang dapat membantu mengevaluasi nyeri dan keefektifan terapi.
Ø  Meningkatkan kenyamanan dan resiko terjadinya cedera menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan.


Ø  Membantu menurunkan tegangan otot.
Ø  Hangat menyebabkan vasodilatasi, meningkatkan sirkulasi. Dingin menyebabkan vasokontriksi.
2.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Nafsu makan menurun, mual
DS :
Klien mengatakan nafsu makan berkurang, mual
Klien mengatakan sebelum sakit BB nya 50 Kg
DO :
Ø       Klien tampak pucat
Ø       Klien tampak lemas
Ø       BB 50 Kg
Nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh

KH :
Nafsu makan membaik
BB 50 Kg
Keadaan umum membaik
Ø  Jelaskan tentang manfaat makan bila dikaitkan dengan kondisi klien saat ini.
Ø  Anjurkan agar klien memakan makanan yang tersedia di RS.

Ø  Beri makanan dalam keadaan hangat dan porsi kecil serta diet TKTP.

Ø  Libatkan keluarga pasien dalam penuhan nutrisi tambahan yang tidak bertenangan dengan penyakitnya.

Ø  Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intervensi/periksaan peroral.
Ø  Beri motivasi dan dukungan fsikologis.
Ø  Kolaborasi tentang pemenuhan diet klien
Ø  Dengan pemahaman klien akan lebih kooperatif mengikuti aturan.

Ø  Untuk menghindari makanan yang justru dapat mengganggu proses penyembuhan klien.
Ø  Untuk meningkatkan selera dan mencegah mual, mempercepat perbaikan nutrisi, serta mengurangi beban kerja jantung.
Ø  Dengan bantuan keluarga dalam pemenuhan nutrisi dengan tidak bertentangan dengan pola diet akan meningkatkan pemenuhan nutrisi.
Ø  Higiene oral yang baik akan meningkatkan nafsu makan klien.





Ø  Meningkatkan secara fsikologis .

Ø  Meningkatkan pemenuhan sesuai dengan kondisi klien
3.
Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan
DS :
Klien Mengatakan sesak nafas dan lemas, cepat lelah pada Saat beraktifitas.
DO :
Ø  Klien Tampak Pucat
Ø  Klien tampak lemah
Ø  HR : 89x/i
Ø  RR : 25x/i
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24jam aktivitas klien sehari-hari terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas
KH

Ø  Klien bisa melakukan aktivitas dengan normal
Ø  Keadaan umum membaik
Ø  HR : 60-80x/i
Ø  RR : 12-20x/i
Ø  Catat frekuensi dan irama jantung serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah beraktivitas
Ø  Tingkatkan istirahat,batasi aktivitas,dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
Ø  Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen,misalnya mengejan saat defekasi.
Ø  Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas.

Ø  Pertahankan klien tirah baring sementara sakit.
Ø  Pertahankan rentan gerak pasif selama sakit kritis.
Ø  Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.
Ø  Berikan waktu istirahat di antara waktu aktivitas.


Ø  Selama aktivitas kaji EKG,dispnea,sianosis,kerja dan frekuensi nafas,serta keluhan subjektif.
Ø  Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium.

Ø  Menurunkan kerja miokardium/konsumsi oksigen.



Ø  Dengan mengejan dapat meningkatkan takikardia serta peningkatan tekanan darah.



Ø  Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung,meningkatkan dan mencegah aktivitas berlebihan.
Ø  Untuk mengurangi beban jantung.

Ø  Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran vena balik.
Ø  Untuk mengetahui fungsi jantung bila dikaitkan dengan aktivitas.
Ø  Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung.
Ø  Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung



BAB IV
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pamatangan eritrosit.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral Fe sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan zat besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun :
1.   Kehilangan besi akibat perdarahan menahun yang dapat beasal dari :
Ø  Saluran cerna à Akibat dari tukak peptik kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang
Ø  Saluran genetalia wanita à menoragi atau metroragi
Ø  Saluran kemih à hematuria
Ø  Saluran nafas à hemoptoe
2.      Faktor nutrisi à akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan atau kualitas besi yang tidak baik (makanan banyak mengandung serat, rendah vitamin C, dan rendah daging)
3.      Kebutuhan besi meningkat à seperti pada prematuritas anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan
4.      Gangguan absorpsi besi à gastrekotomi, kolitis kronis

3.2    Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85.
Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology. Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50.
Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood. Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25.
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
http://poetriezhuzter.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-anemia.html






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar